Sore itu, mendung tebal menggayut.
"Dari cerita lo barusan, menurut gue, mereka emang ga pernah pacaran," Win membuka analisisnya hari ini sambil mengambil popcorn.
Malam itu Win memang menginap seperti yang biasa dia lakukan kalau malam Minggu datang. Dia membawa beberapa DVD baru karena memang hobi nonton film. Tapi karena sedari tadi Re masih sibuk saja dengan laptopnya, maka ia tergoda untuk mengganggu.
Dan Re pun menceritakan semuanya. Tentang Pal dan rasa penasarannya pada senior yang sekarang ada di Singapore itu. Namun ia belum berani mengatakan pada Win tentang rasa sakit yang dia rasakan setiap kali mendengar nama Pal disebut oleh Sena.
"Tapi inget Re. Ga pacaran itu bukan berarti ga pernah saling suka," lanjut Win lagi.
"Jadi…"
"Jadi ya begitu. Walaupun mereka ga pernah pacaran, bisa aja mereka pernah saling suka."
Re termenung. Win memperhatikan sahabat kecilnya itu.
"Oke Re, sebenernya ada apa sama lo?" tanyanya akhirnya.
Re mengalihkan pandangan dari layar laptopnya. "Ada apa gimana?"
Win terdiam sejenak.
"Terakhir kali gue ngeliat lo kayak gini…waktu Abel…," Win menggantung kalimatnya.
Luka di hati Re pun terbuka lagi.
Abel.
Nama itu adalah alasannya menutup diri dari segala perasaan suka. Nama yang sudah membuatnya menjauhi segala rasa sakit. Nama yang membuatnya memilih untuk mati rasa.
Abel adalah sahabat Re sewaktu kecil. Bukan hanya sahabat, tapi Abel juga adalah saingan Re. Dalam segala hal. Dan satu fakta yang sangat menyebalkan bagi seorang Abel kecil. Fakta bahwa ia tak pernah bisa mengalahkan Re. Dalam segala hal.
Re sangat menyayangi Abel. Baginya, Abel adalah sahabat yang tak bisa tergantikan oleh siapapun. Dan begitu pula Abel. Tak ada yang bisa menggantikan posisi Re di hatinya.
Namun siapa sangka. Perasaan lain mulai tumbuh dalam hati Abel. Pelan namun pasti, tak ada hari yang ia lewati tanpa debaran hatinya bila bersama Re. Tak ada hari yang ia lewatkan tanpa wajahnya memerah bila melihat senyuman Re. Dan akhirnya, Abel kecil pun tahu, ia menyukai Re.
Anak kecil yang tak tahu apa-apa itu pun mengatakan segalanya pada Re. Dan gadis itu, dengan polosnya menjawab dengan sebuah senyuman dan,
"Kamu itu sahabatku, Bel. Selamanya tetap sahabatku."
Mulanya Abel bisa menerima. Namun perlahan, rasa sakit mulai menjalar. Hingga akhirnya ia tak sanggup lagi melihat wajah Re tanpa merasakan perih yang amat sangat.
Dan Abel pun memutuskan untuk pergi. Dari hadapan Re. Meninggalkan gadis kecil itu dengan perasaan hampa, karena kehilangan sahabat yang sangat disayanginya.
Re menangis. Berhari-hari. Tak mengerti apa yang salah. Hingga Win datang. Mendengarkan semuanya. Ikut menangis bersamanya.
Setelah berbulan-bulan lewat sejak kepergian Abel, Re sudah memutuskan satu hal. Jika perasaan yang namanya 'suka' itu membuatnya kehilangan sahabat, maka lebih baik ia menutup diri dari semua itu. Cukup sudah penderitaan karena 'suka'. Tak boleh ada lagi.
Begitulah hidup Re berlanjut lagi. Hanya Win yang tahu alasan mengapa Re berubah dari seorang gadis yang ceria menjadi sebuah pribadi bermuka dua. Hangat di luar, namun dingin di dalam.
Luka karena kepergian Abel begitu dalam terasa. Karena itulah, Re memilih untuk mengubur luka itu dalam-dalam.
Sekarang, luka itu terbuka lagi. Walaupun sedikit, namun cukup untuk membuat Re mati-matian menahan air matanya agar tidak jatuh.
Win memperhatikan dalam diam. Merasa bersalah. Namun, dia merasa harus mengingatkan Re. Dari dulu dia tak pernah suka dengan muka dua Re. Dia hanya melarikan diri. Tak berani menghadapi semua rasa sakit.
Tak salah lagi, batinnya dalam hati. Mata yang menatap kosong barusan, sama persis seperti waktu itu.
You've got mail
Re menoleh. Tersadar dari lamunan. Email notifier.
From : Valeska
Subject : RE : Interview(??)
Alo, Re.
Ok, literally aku jawab : itu TIDAK BENAR.
Sena itu bener2 temen yg klop bgt ama aku, deket bgt, pokoknya dia tuh seseorang yg amat sangat penting dalam hidupku (JGN PERNAH BILANG INI KE DIA!!!). Kalo ditanya suka, yah suka lah, aku sayank bgt ama dia, kalo ga, gmn bisa kita kompak bgt, n saling percaya? tapi kalo kamu tanya ttg rasa suka yg "beda" lagi, which is, rasa suka ke dia sbg cowo...yah, gmn ya, rasa itu ilang sendiri automatically karna aku uda anggep dia sbg sahabat yg bener2 sahabat deh...bahkan kaya'nya, aku lebih perlu Sena sbg temen daripada sbg cowo, soalnya bagiku dia ga pernah bisa jadi cowo yg baik!!=p
Kalo ttg dia suka ma aku, yah, gak tau yah...aku rasa sih kita perasaannya terhadap satu sama lain sama aja. bahkan kita pernah diskusi kalo kita tuh digosipin macem2, katanya "Pal, tau ga? masa kita digosipin pacaran!" gitu, and aku jawab,"tau, tuh!dasar orang2 aneh..." gitu d...dan itu confirm kalo kita ga jadian...ok?
tapi jujur aja, kalo misalnya Sena jadian ama cewek, aku rada sensi kali yah...keilangan temen...Sena gmn yah? waktu aku kasi tau ttg gebetan2ku, kaya'nya dia sounds biasa2 aja tuh...
ok d, thx atas interview-nya(=p). salam bwat yg len2 d!
c u!
cheers,
Pal.
Re menatap nanar baris demi baris kata-kata itu. Hatinya terasa sakit. Walaupun ia tak tahu mengapa.
Perlahan, air mata yang sedari tadi ditahannya mengalir.
Bukan, bukan luka lama. Tapi luka baru.
Win yang melihat air mata Re menetes jatuh, tertegun sesaat. Kemudian dia beringsut mendekati Re. Memeluknya.
Lagi-lagi….air mata ini harus jatuh….,batinnya sedih.
Dan di luar, hujan mulai turun rintik-rintik.
***
Keesokan harinya…
Anak-anak kelas satu berkerumun di depan papan pengumuman.
DAFTAR SISWA AKSELERASI
Begitu bunyi tulisan yang dicetak tebal-tebal itu.
Hanya ada 10 nama.
Mikael dan Opi yang ikut membaca, langsung terdiam.
Nama Renan ada diantaranya.
***end of chapter 13 : EMAIL (PART II)***